Ikizone.com – Suara Arah Publik – Berita Terbaru – Berita Terkini

Hukum

Effendi Gazali Kembalikan Gelar Guru Besar, Ini Alasannya!

Effendi Gazali Kembalikan Gelar

Keberadaan Effendi Gazali yang sedang diserang oleh berita jurnalistik yang menyudutkannya. Akhirnya Effendi Gazali kembalikan gelar guru besar agar mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, terutama menjelekkan nama lembaga kampusnya. Menurut, Effendi, bahwa saat ini jurnalis sudah tidak mengedepankan kaidah jurnalistiknya bahkan malah menyudutkan.

Effendi Gazali Kembalikan Gelar Guru Besar

Sebagai ahli komunikasi politik, sudah membulatkan tekadnya dengan melayangkan surat kepada lembaga DIKTI. Pernyataan bahwa dirinya melepas gelarnya selama ini yang dilampiri alasan. Sebagai saksi pada kasus tentang  bansos bantuan yang menimpa Matheus, salah satu mantan pekerja Kemensos.

Sejak KPK memanggil dirinya jadi saksi tersebut, ia membantah keterlibatannya dalam kasus. Bahkan Effendi merasa gagal setelah dua puluh tahun berbagai ilmu komunikasi dan jurnalistik akibat namanya beredar di puluhan media juga berita. Terkait kasus bansos ini, ia mengatakan bahwa akan semakin parah dan terjadi pembunuhan karakter.

Apa Alasannya Mengembalikan Gelarnya Tersebut?

Oleh karena itu, Effendi memutuskan untuk mengundurkan diri dari gelarnya agar tidak menyangkut lagi nama lembaga. Juga tidak membawa nama kampus yang menjadi tempat dimana ia mengajar. Lalu inilah alasan lainnya yang mengharuskan Effendi Gazali akhirnya mundur dari guru besar.

1. Menuai Kegagalan

Melalui akun YouTube Refly Harun, Ghazali mengatakan bahwa dia mundur dari guru besar dan juga merasa telah gagal. Padahal selama ini dirinya mengajar tentang jurnalistik juga komunikasi, namun justru dia tersandung dengan keberadaan jurnalistik itu sendiri yang menyebarkan berita menyudutkan. Saat ini jurnalisme sudah tidak lagi memperlihatkan kaidan jurnalistiknya dan kode etik.

2. Keterlibatan Dengan KPK

Ini yang menjadi sorotan besar media, Ghazali dianggap terlibat karena dipanggil dan diperiksa oleh KPK. Media membuat dan membesarkan masalah saat ini, padahal dia sama seperti saksi lainnya yang biasa dijadikan saksi oleh KPK. Pembesaran berita yang beredar ini akhirnya membuat pakar peneliti komunikasi politik ini mundur dari gelarnya.

3. Kekecewaan Effendi Gazali

Pada BAP yang menyebutkan bahwa Effendi juga telah menerima ribuan jatah kuota bansos. Beredarnya berita ini membuat Effendi heran, semudah itu BAP KPK beredar jadi konsumsi publik. Berdasarkan kabar pula bahwa Effendi memberi rekomendasi soal dana bansos dengan nominal puluhan miliar. Yang menurutnya seharusnya hal harus ditelaah lebih dulu, rekomendasi harus dari ahlinya.

4. Keberadaan Wartawan

Menurut Effendi, ada wartawan yang sengaja melakukan penawaran terkait berita dan jurnalistik dan ancaman kaidan suci jurnalistiknya. Yaitu caranya dengan melakukan konfirmasi berita bahkan pada berita yang beredar secara visual audio juga menyebutkan, tersangka tidak menampik. Hal ini sangat memojokkan Effendi Gazali selaku saksi dan berdasarkan video tersangka tidak ada kaitannya keterlibatan dirinya.

5. Jangan Libatkan Kampus

Alasan Effendi Gazali kembalikan gelar guru besar yaitu dikarenakan ia tidak ingin mencoreng nama kampus tempatnya mengajar. Bahkan sidang ke sidang yang dijalani nya akan mengganggu konsentrasi mengajarnya. Maka ia lebih melepaskan jabatannya yang mana gelar guru besar  tersebut tidak akan mengganggu atau merugikan orang lain.

Effendi merasa bahwa saat ini merupakan moment pembunuhan karakter, dimana dia disudutkan dalam pemberitaan. Bahkan kaidan jurnalistik yang sepertinya sudah hilang ini semakin membuatnya terlihat sebagai tersangka yang ikut terlibat dalam dana bansos. Padahal KPK memanggil dirinya sebagai saksi dan dirinya tidak terlibat sedikit pun tidak seperti yang diberitakan oleh media saat ini.

Ketika dirinya menjadi diberitakan besar-besaran oleh media dan Effendi terlibat sebagai saksi. Maka saat itu juga media justru kelebihan dan membuat heboh bagaimana keberadaannya seperti dianggap terlibat. Ini yang amat disayangkan terjadi saat ini, dimana kode etik jurnalistik sudah hilang dan Effendi sedang berada dalam pusaran tersebut.

 

Bantu Bagikan !!!
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Post Popular

To Top