Rupiah Semakin Jeblok, Kini Rp 14.810/US$ Dan Terlemah di Asia

Rupiah Semakin Jeblok, Kini Rp 14.810US$ Dan Terlemah di Asia
Rupiah Semakin Jeblok, Kini Rp 14.810US$ Dan Terlemah di Asia

SUARA ARAH PUBLIK, JAKARTANilai tukar rupiah semakin jeblok melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (13/3/2020) akibat semakin memburuknya sentimen pelaku pasar yang memicu aksi jual masif.

Pada hari ini, kurs rupiah ambles 2,07% ke Rp 14.810/US$. Level tersebut merupakan yang terlemah sejak 13 November 2018.

Aksi jual akibat pandemi virus corona terus terjadi di pekan ini, bahkan semakin parah sejak Kamis kemarin.

Mayoritas mata uang utama Asia memang melemah melawan dolar AS pada perdagangan hari ini, tetapi rupiah yang paling parah. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk kedua pelemahannya ‘hanya’ 1,08%.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang baru dibuka pada pukul 09:00 WIB lalu langsung jeblok 5% dan sekali lagi mengalami trading halt pemberhentian perdagangan selama 30 menit). 

Kamis kemarin, perdagangan IHSG dihentikan lebih awal setelah anjlok 5,01% pada pukul 15:33 WIB.

Sesuai dengan kebijakan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perdagangan bursa saham akan dihentikan selama 30 menit (trading halt) jika IHSG anjlok 5% atau lebih, sebagai langkah antisipasi dalam mengurangi fluktuasi tajam di pasar modal.

Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun, berarti harga sedang naik. Sebaliknya, ketika yield naik, berarti harga sedang turun. Saat harga sedang turun, itu artinya sedang terjadi aksi jual di pasar obligasi.

Selain dari pasar saham, aksi jual juga terjadi di pasar obligasi Indonesia. Yield obligasi tenor 10 tahun kemarin naik 26,9 basis poin (bps) menjadi 7,248%. Yield tersebut menjadi yang tertinggi sejak 19 Desember 2019.

Outflow yang terjadi di pasar saham dan obligasi tersebut membuat rupiah semakin terpuruk.

Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun, berarti harga sedang naik. Sebaliknya, ketika yield naik, berarti harga sedang turun. Saat harga sedang turun, itu artinya sedang terjadi aksi jual di pasar obligasi.

Baca Juga : Presiden PKS Silaturahim Kebangsaan ke SBY, Membahas Situasi Global Saat ini

Bagikan!!

About Admin

Check Also

Setengah Lebih APBN dari Utang

Fraksi PKS: Negara Bisa Kolaps karena Setengah Lebih APBN dari Utang

Fraksi PKS: Negara Bisa Kolaps karena Setengah Lebih APBN dari Utang IKIZONE.COM, Suara Arah Publik …

Leave a Reply